Pages

Ngobrol gado-gado

Sabtu, 22 Desember 2012

Mother's Day


Ibu...
Mama...
Emak...
Bunda...
Mami...
Tapi saya memanggilnya "mama". Sosok yang ketika saya menyebutnya, terasa seluruh persendian saya berteriak. Teriak kagum. Teriak bahagia. Teriak mencinta.
Mama, sejak kecil hanya nama itu yang paling sering saya sebut. Seorang wanita yang saya sebut pahlawan dihidup saya. Betapa tidak, mama lah yang memberikan semua hal yang ada pada diri saya. Dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dari seluruh organ tubuh sampai semua hal yang saya pakai. Sejak saya kecil, sampai se-besar ini, mama-lah yang mempunyai peran penting dan utama.

Jumat, 21 Desember 2012

Olele, Surga Taman Laut terbaik !

Pukul 4 pagi, ferry yang kami tumpangi dari Wakai beraandar di pelabuhan Gorontalo. Tidak sesuai perkiraan, mama yang ketiduran tidak bisa menjemput kami tepat waktu. Jadilah kami dijemput baru pukul 5. Setelah mengantarkan teman yang kami kenal di Fadhila Cottage ke bandara, kami menuju Tomini Dive Centre untuk mnyewa alat snorkling. Untuk paket lengkapnya ditawarkan seharga 50 rribu, tapi jika hanya menyewa masker dan snorkle nya saja, hanya 25 ribu. Setelah sarapan, saya melajukan mobil ke arah Bonepantai, ke desa Olele. 30-45 menit perjalanan, kami tiba di Olele. Setelah berembuk dengan Ko Siong, pemilik perahu bottom glass, akhirnya disepakati harga 250 ribu untuk trip sepanjang pantai.

Kamis, 20 Desember 2012

Nikmatnya Berlibur di Togean Island











Pernah dengar tentang Togean Island? Masih sedikit yg tau tentang tempat ini. Tapi tidak dengan turis-turis mancanegara. Bahkan bisa dibilang lebih banyak turis asing mengunjungi pulau ini daripada turis lokal sendiri. Ada beberapa alternatif menuju pulau ini. Melalui Ampana dan juga melalui Gorontalo. Saya akan membahas perjalanan melalui Gorontalo karena selain saya melalu alternatf ini, juga karena saya ingin para turis sebelumnya dapat mengenal Gorontalo terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Togean. Kenapa? Karna saya mencintai kampung saya ini, yang juga tdak kalah indahnya dengan daerah-daerah lain. Dan karena pula untuk saat ini jalur melalui Gorontalo adalah yang terbaik dan paling mudah dijangkau.

Kamis, 13 Desember 2012

Parade Karawo di Festival Karawo 2012

Karawo atau Kerawang adalah sulaman kain khas Gorontalo yang lahir dari kerajinan dan ketekunan dalam menyulam kain membentuk sebuah pola atau design. Istilah mokarawo sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat Gorontalo. Berbeda dengan kain kerrawang dari jawa barat kain karawo dihasilkan melalui sulaman tangan dan dikerjakan secara personal, karawo dihasilkan dengan memadukan design dan warna dari benang dan kain yang disulam. Ini menjadi salah satu keunikan tersendiri bagi kain karawo. Dengan berbagai macam motif dan design karawo menjadi salah satu kain khas kebanggaan warga Gorontalo dan menjadi nilai identitas dan buday Gorontalo.

Kamis, 16 Agustus 2012

Tumbilotohe dan Gorontalo

Apa hubungannya? Tentu saja berhubungan. Tumbilotohe cuma ada di Gorontalo, dan Gorontalo terkenal dengan Tumbilotohenya, bahkan sempat tayang disalah satu iklan BUMN yang mengangkat tentang Gorontalo.
Tumbilotohe adalah tradisi warga Gorontalo menjelang lebaran yaitu pada malam ke 27, 28, dan 29 Ramadhan. Tumbilotohe berasal dari kata 'Tumbilo' yang artinya 'pasang' dan 'Tohe' yang artinya 'lampu' sehingga kedua katta ini digabungkan menjadi 'Pasang lampu'.

Uniknya, lampu yang digunakan adalah lampu botol berbahan bakar minyk tanah. Ada 4 macam tohe (lampu) yg dipakai, tapi jaman skarang lampu-lampu model itu jarang lagi ditemuin. 4 lampu tersebut antara lain Tohe Padamala, Tohe Tutu, Tohe Popaya, Tohe Tiamenga
Tradisi ini konon sudah ada sejak 500 tahun yang lalu. Bermula saat para ttetua-tetua adat yang akan melaksanakan sidang menentukan kapan waktunya shalat Idul Fitri setta penentuan Imam dan Khatib shalat Idul Fitri, pada awal abada ke 17 masehi, ketika Islam mencapai kejayaan yaitu ketika Islam jadi agama kerajaan. Nah waktu itu seluruh rakyat diminta untuk menyalakan lampu didepan rumah untuk menerangi jalan menuju masjid tempat musyawarah. Pada awalnya lampu yang digunakan adalah getah damar, namun lama kelamaan mulai digunakan padamala yaitu lampu berbahan minyak kelapa (Tohe Padamala). Damar yang menyala itu dibungkus dengan janur dan dipasang diatas dudukan kayu. Karena getah damar mulai sulit dicari, lalu diganti dengan pelepah buah pepaya yang diisi minyak kelapa (Tohe Popaya). Perkembangannya kemudian, tumbilotohe diyakini untuk menyambut turunnya Lailatur Qadr. (Sumber: kultwit dari @GorontaloUNITE).
Nah jaman sekarang, tumbilotohe lebih modern lagi karna warga sudah banyak yang memakai lampu listrik kecil berwarna-warni. Hal ini disebabkan karena minyak tanah yg sudah tidak bersubsidi lagi dan berimbas pada harganya yang sangat mahal dan juga susah di cari. Tapi ini tidak menyurutkan semangat para warga Gorontalo khususnya yang berdadi kabupaten. Contohnya untuk Tumbilotohe tahun ini, yang dibuat sebegitu meriah didaerah kabupaten kabupaten. Di kabupaten Gorontalo contohnya, ada pelepasan 1000 lampion ke udara yang diselenggarakan di Pentadio Resort. Sedangkan di kabupaten Bone Bolango lain lagi. Bertempat dilapangan Ippot Tapa, ribuan lampu botol berkerlap kerlip teratur rapi di seluruh tanah lapang. Selain itu, ditempat yang sama pula diadakan berbagai perlombaan seperti festival Bedug, Festival Bunggo (meriam bambu), pawai obor, dan pertandingan olahraga beladiri tradisional yaitu Langga. Pada pembukaan acara ini, disuguhkan tri-tarian daerah yaitu berupa Tari Po'oto (tarian Selamat Datang), Tidi Lo O'ayabu, dan lain sebagainya.
Ingin melihat suasana Tumbilotohe sari punvak? Ada 2 alternatif tempat umum yang bisa menikmatinya. Yaitu dari Kantor Gubernur yang berada di puncak Bohe (salah satu sudut yang ditampilkan didalam iklan pertamina) dan yang satunya lagi yaitu puncak menara keangkuhan yang berada dikabupaten Gorontalo.
Ingin merasakan suasana Tumbilotohe? Datanglah ke Gorontalo 3 hari menjelang lebaran.. :)

Jumat, 20 Juli 2012

Traveling to Hongkong & Macau Day #6 (Last Day)

- Menonton Dragon Boat Festival
- Macao Giant Panda Pavilion
- Pulang
 
Ini adalah hari terakhir kami di Macau. Kami bangun pagi2 sekali hari ini. Tujuan kami adalah yang pertama yaitu menonton Dragon Boat. Sebelumnya berkat email komfirmasi dari hostel yang memberitahukan bahwa setiap calon tamu akan dikenakan biaya tambahan sebesar kurang lebih 100 ribu rupiah karena akan adanya festival perahu naga ini, saya tidak akan tahu tentang festival ini. Dijadwalkan gestival akan dimulai pukul 10 tepat. Jadi setelah kami membereskan barang-barang kami, dan menitipkannya ke resepsionis (yang kali ini adalah seorang kakek-kakek) dan tentu saja sambil menunjuk-nunjuk 'daftar kamus cepat' yang ditempel di meja resepsionis dimana tulisan yang dimaksud adalah kami akan menyimpan barang kami disini, kami kemudian turun dari hostel tersebut.

Rabu, 18 Juli 2012

Traveling to Hongkong & Macau Day #5

 Day #5 (Hongkong - Macau)
- Senado Square (Largo de Senado)
- Ruins of The Church of St. Paul
- City Dreams
- The Venetian

Pagi ini rencananya kami akan meninggalkan Hongkong dan bertolak ke Macau. Sebelumnya, saya menyempatkan diri membeli tas untuk oleh-oleh untuk mama.
Setelah mutar-mutar seputaran Nathan Road dan tidak menemukan tas bermerk dengan harga yang cukup untuk kantong saya, kami kembali lagi ke Hostel untuk mengambil barang bawaan. Mengucapkan terimakasih kepada resepsionis seorang wanita India (yang meminta kami untuk memberikan review tentang hostel mereka), kami turun dan sarapan di KFC. Setelahnya, kami menyeberangi jalan dan berjalan ke arah Ferry Terminal yang akan membawa kami ke Macau. Setelah membeli tiket dengan harga yang sama saat kami datang ke Hongkong, kami menuju Ferry penyeberangan yang ternyata sudah bersiap akan berangkat. Sebelumnya kami meminta tempat duduk yang agak ke depan dan sebelah jendela, mengingat penyeberangan sebelumnya kami mabok laut. Setelah menulis kartu masuk imigrasi, kami mulai duduk dengan nyaman di kursi kapal yang emang nyaman itu.