Karawo atau Kerawang adalah sulaman kain khas Gorontalo yang lahir dari kerajinan dan
ketekunan dalam menyulam kain membentuk sebuah pola atau design. Istilah
mokarawo sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat Gorontalo. Berbeda
dengan kain kerrawang dari jawa barat kain karawo dihasilkan melalui
sulaman tangan dan dikerjakan secara personal, karawo dihasilkan dengan
memadukan design dan warna dari benang dan kain yang disulam. Ini
menjadi salah satu keunikan tersendiri bagi kain karawo. Dengan berbagai
macam motif dan design karawo menjadi salah satu kain khas kebanggaan
warga Gorontalo dan menjadi nilai identitas dan buday Gorontalo.Kamis, 13 Desember 2012
Parade Karawo di Festival Karawo 2012
Karawo atau Kerawang adalah sulaman kain khas Gorontalo yang lahir dari kerajinan dan
ketekunan dalam menyulam kain membentuk sebuah pola atau design. Istilah
mokarawo sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat Gorontalo. Berbeda
dengan kain kerrawang dari jawa barat kain karawo dihasilkan melalui
sulaman tangan dan dikerjakan secara personal, karawo dihasilkan dengan
memadukan design dan warna dari benang dan kain yang disulam. Ini
menjadi salah satu keunikan tersendiri bagi kain karawo. Dengan berbagai
macam motif dan design karawo menjadi salah satu kain khas kebanggaan
warga Gorontalo dan menjadi nilai identitas dan buday Gorontalo.Kamis, 16 Agustus 2012
Tumbilotohe dan Gorontalo
Apa hubungannya? Tentu saja berhubungan. Tumbilotohe cuma ada di Gorontalo, dan Gorontalo terkenal dengan Tumbilotohenya, bahkan sempat tayang disalah satu iklan BUMN yang mengangkat tentang Gorontalo.
Tumbilotohe adalah tradisi warga Gorontalo menjelang lebaran yaitu pada malam ke 27, 28, dan 29 Ramadhan. Tumbilotohe berasal dari kata 'Tumbilo' yang artinya 'pasang' dan 'Tohe' yang artinya 'lampu' sehingga kedua katta ini digabungkan menjadi 'Pasang lampu'.
Uniknya, lampu yang digunakan adalah lampu botol berbahan bakar minyk tanah. Ada 4 macam tohe (lampu) yg dipakai, tapi jaman skarang lampu-lampu model itu jarang lagi ditemuin. 4 lampu tersebut antara lain Tohe Padamala, Tohe Tutu, Tohe Popaya, Tohe Tiamenga
Tradisi ini konon sudah ada sejak 500 tahun yang lalu. Bermula saat para ttetua-tetua adat yang akan melaksanakan sidang menentukan kapan waktunya shalat Idul Fitri setta penentuan Imam dan Khatib shalat Idul Fitri, pada awal abada ke 17 masehi, ketika Islam mencapai kejayaan yaitu ketika Islam jadi agama kerajaan. Nah waktu itu seluruh rakyat diminta untuk menyalakan lampu didepan rumah untuk menerangi jalan menuju masjid tempat musyawarah. Pada awalnya lampu yang digunakan adalah getah damar, namun lama kelamaan mulai digunakan padamala yaitu lampu berbahan minyak kelapa (Tohe Padamala). Damar yang menyala itu dibungkus dengan janur dan dipasang diatas dudukan kayu. Karena getah damar mulai sulit dicari, lalu diganti dengan pelepah buah pepaya yang diisi minyak kelapa (Tohe Popaya). Perkembangannya kemudian, tumbilotohe diyakini untuk menyambut turunnya Lailatur Qadr. (Sumber: kultwit dari @GorontaloUNITE).
Nah jaman sekarang, tumbilotohe lebih modern lagi karna warga sudah banyak yang memakai lampu listrik kecil berwarna-warni. Hal ini disebabkan karena minyak tanah yg sudah tidak bersubsidi lagi dan berimbas pada harganya yang sangat mahal dan juga susah di cari. Tapi ini tidak menyurutkan semangat para warga Gorontalo khususnya yang berdadi kabupaten. Contohnya untuk Tumbilotohe tahun ini, yang dibuat sebegitu meriah didaerah kabupaten kabupaten. Di kabupaten Gorontalo contohnya, ada pelepasan 1000 lampion ke udara yang diselenggarakan di Pentadio Resort. Sedangkan di kabupaten Bone Bolango lain lagi. Bertempat dilapangan Ippot Tapa, ribuan lampu botol berkerlap kerlip teratur rapi di seluruh tanah lapang. Selain itu, ditempat yang sama pula diadakan berbagai perlombaan seperti festival Bedug, Festival Bunggo (meriam bambu), pawai obor, dan pertandingan olahraga beladiri tradisional yaitu Langga. Pada pembukaan acara ini, disuguhkan tri-tarian daerah yaitu berupa Tari Po'oto (tarian Selamat Datang), Tidi Lo O'ayabu, dan lain sebagainya.
Ingin melihat suasana Tumbilotohe sari punvak? Ada 2 alternatif tempat umum yang bisa menikmatinya. Yaitu dari Kantor Gubernur yang berada di puncak Bohe (salah satu sudut yang ditampilkan didalam iklan pertamina) dan yang satunya lagi yaitu puncak menara keangkuhan yang berada dikabupaten Gorontalo.
Ingin merasakan suasana Tumbilotohe? Datanglah ke Gorontalo 3 hari menjelang lebaran.. :)
Tumbilotohe adalah tradisi warga Gorontalo menjelang lebaran yaitu pada malam ke 27, 28, dan 29 Ramadhan. Tumbilotohe berasal dari kata 'Tumbilo' yang artinya 'pasang' dan 'Tohe' yang artinya 'lampu' sehingga kedua katta ini digabungkan menjadi 'Pasang lampu'.
Uniknya, lampu yang digunakan adalah lampu botol berbahan bakar minyk tanah. Ada 4 macam tohe (lampu) yg dipakai, tapi jaman skarang lampu-lampu model itu jarang lagi ditemuin. 4 lampu tersebut antara lain Tohe Padamala, Tohe Tutu, Tohe Popaya, Tohe Tiamenga
Tradisi ini konon sudah ada sejak 500 tahun yang lalu. Bermula saat para ttetua-tetua adat yang akan melaksanakan sidang menentukan kapan waktunya shalat Idul Fitri setta penentuan Imam dan Khatib shalat Idul Fitri, pada awal abada ke 17 masehi, ketika Islam mencapai kejayaan yaitu ketika Islam jadi agama kerajaan. Nah waktu itu seluruh rakyat diminta untuk menyalakan lampu didepan rumah untuk menerangi jalan menuju masjid tempat musyawarah. Pada awalnya lampu yang digunakan adalah getah damar, namun lama kelamaan mulai digunakan padamala yaitu lampu berbahan minyak kelapa (Tohe Padamala). Damar yang menyala itu dibungkus dengan janur dan dipasang diatas dudukan kayu. Karena getah damar mulai sulit dicari, lalu diganti dengan pelepah buah pepaya yang diisi minyak kelapa (Tohe Popaya). Perkembangannya kemudian, tumbilotohe diyakini untuk menyambut turunnya Lailatur Qadr. (Sumber: kultwit dari @GorontaloUNITE).
Nah jaman sekarang, tumbilotohe lebih modern lagi karna warga sudah banyak yang memakai lampu listrik kecil berwarna-warni. Hal ini disebabkan karena minyak tanah yg sudah tidak bersubsidi lagi dan berimbas pada harganya yang sangat mahal dan juga susah di cari. Tapi ini tidak menyurutkan semangat para warga Gorontalo khususnya yang berdadi kabupaten. Contohnya untuk Tumbilotohe tahun ini, yang dibuat sebegitu meriah didaerah kabupaten kabupaten. Di kabupaten Gorontalo contohnya, ada pelepasan 1000 lampion ke udara yang diselenggarakan di Pentadio Resort. Sedangkan di kabupaten Bone Bolango lain lagi. Bertempat dilapangan Ippot Tapa, ribuan lampu botol berkerlap kerlip teratur rapi di seluruh tanah lapang. Selain itu, ditempat yang sama pula diadakan berbagai perlombaan seperti festival Bedug, Festival Bunggo (meriam bambu), pawai obor, dan pertandingan olahraga beladiri tradisional yaitu Langga. Pada pembukaan acara ini, disuguhkan tri-tarian daerah yaitu berupa Tari Po'oto (tarian Selamat Datang), Tidi Lo O'ayabu, dan lain sebagainya.
Ingin melihat suasana Tumbilotohe sari punvak? Ada 2 alternatif tempat umum yang bisa menikmatinya. Yaitu dari Kantor Gubernur yang berada di puncak Bohe (salah satu sudut yang ditampilkan didalam iklan pertamina) dan yang satunya lagi yaitu puncak menara keangkuhan yang berada dikabupaten Gorontalo.
Ingin merasakan suasana Tumbilotohe? Datanglah ke Gorontalo 3 hari menjelang lebaran.. :)
Jumat, 20 Juli 2012
Traveling to Hongkong & Macau Day #6 (Last Day)
- Menonton Dragon Boat Festival
- Macao Giant Panda Pavilion
- Pulang
Ini adalah hari terakhir kami di Macau. Kami bangun pagi2 sekali hari ini. Tujuan kami adalah yang pertama yaitu menonton Dragon Boat. Sebelumnya berkat email komfirmasi dari hostel yang memberitahukan bahwa setiap calon tamu akan dikenakan biaya tambahan sebesar kurang lebih 100 ribu rupiah karena akan adanya festival perahu naga ini, saya tidak akan tahu tentang festival ini. Dijadwalkan gestival akan dimulai pukul 10 tepat. Jadi setelah kami membereskan barang-barang kami, dan menitipkannya ke resepsionis (yang kali ini adalah seorang kakek-kakek) dan tentu saja sambil menunjuk-nunjuk 'daftar kamus cepat' yang ditempel di meja resepsionis dimana tulisan yang dimaksud adalah kami akan menyimpan barang kami disini, kami kemudian turun dari hostel tersebut.
- Macao Giant Panda Pavilion
- Pulang
Ini adalah hari terakhir kami di Macau. Kami bangun pagi2 sekali hari ini. Tujuan kami adalah yang pertama yaitu menonton Dragon Boat. Sebelumnya berkat email komfirmasi dari hostel yang memberitahukan bahwa setiap calon tamu akan dikenakan biaya tambahan sebesar kurang lebih 100 ribu rupiah karena akan adanya festival perahu naga ini, saya tidak akan tahu tentang festival ini. Dijadwalkan gestival akan dimulai pukul 10 tepat. Jadi setelah kami membereskan barang-barang kami, dan menitipkannya ke resepsionis (yang kali ini adalah seorang kakek-kakek) dan tentu saja sambil menunjuk-nunjuk 'daftar kamus cepat' yang ditempel di meja resepsionis dimana tulisan yang dimaksud adalah kami akan menyimpan barang kami disini, kami kemudian turun dari hostel tersebut.
Rabu, 18 Juli 2012
Traveling to Hongkong & Macau Day #5
Day #5 (Hongkong - Macau)
- Senado Square (Largo de Senado)
- Ruins of The Church of St. Paul
- City Dreams
- The Venetian
Pagi ini rencananya kami akan meninggalkan Hongkong dan bertolak ke Macau. Sebelumnya, saya menyempatkan diri membeli tas untuk oleh-oleh untuk mama.
Setelah mutar-mutar seputaran Nathan Road dan tidak menemukan tas bermerk dengan harga yang cukup untuk kantong saya, kami kembali lagi ke Hostel untuk mengambil barang bawaan. Mengucapkan terimakasih kepada resepsionis seorang wanita India (yang meminta kami untuk memberikan review tentang hostel mereka), kami turun dan sarapan di KFC. Setelahnya, kami menyeberangi jalan dan berjalan ke arah Ferry Terminal yang akan membawa kami ke Macau. Setelah membeli tiket dengan harga yang sama saat kami datang ke Hongkong, kami menuju Ferry penyeberangan yang ternyata sudah bersiap akan berangkat. Sebelumnya kami meminta tempat duduk yang agak ke depan dan sebelah jendela, mengingat penyeberangan sebelumnya kami mabok laut. Setelah menulis kartu masuk imigrasi, kami mulai duduk dengan nyaman di kursi kapal yang emang nyaman itu.
Senin, 16 Juli 2012
Traveling to Hongkong & Macau Day #4
DAY #3
- SOHO
- Shopping
Masih bangun siang. Hari ini adalah harinya Aya ! Maksudnya, hari ini dialokasikan khusus untuk Aya yang giat belanja. Yap, walopun saya uda mati-matian bilang kalo kita traveling dengan low budget, tetep aja dia harus dan kudu belanja. Gagal. :|
Seperti biasa, setelah mandi dan berkemas, kami berencana untuk jalan kaki menyusuri Nathan Road sampai ke daerah Mongkok. Hongkong itu pada dasarnya adalah surganya belanja. Yap, dimana-mana kita bisa temuin toko-toko dengan brand-brand terkenal seperti Giordano, Baleno, toko jam tangan Rolex (yang waktu itu saya sedikit mengintip harganya sekitar 100an juta kalo di rupiahin), toko emas Chow Tai Fook, dan masih banyak lagi tersebar dimana-mana. 7 Eleven yang kalo di Jakarta saja uda jadi tempat nongkong anak-anak gahool, disini cuma kayak Alfa Mart saja. Hihihi..
Sabtu, 14 Juli 2012
Traveling to Hongkong & Macau Day #3
DAY #3
- Ngong Phing Village dan Giant Tan Budha Statue
- Symphoni of Light
Pagi ini kami berangkat agak siang, dan sepanjang jalan berdoa semoga tidak turun hujan (atau badai) supaya kedatangan kami jauh-jauh ke Tung Chung tidak sia-sia. Asal tau saja, harga tiketnya tentu saja sangat mahal karena berpindah line (Tsim Sha Tsui berada di Line merah, dan Tung Chung di Line Oranye) dengan transit di Lai King stasiun. Begitu akan keluar dan saat telah menempelkan Octopus Card, ternyata penghalangnya tidak mau terbuka ! Saya kembali ke petugas di loket, memberitahukan permasalahannya, dan setelah kartu saya di cek, saya diberikan kartu sekali pakai untuk dipakai keluar. Fiuuhhh..
Jumat, 13 Juli 2012
Traveling to Hongkong & Macau Day #2
DAY #2 :
- Hongkong Island
- Madame Tussauds
Pukul 09.00 pagi waktu setempat, alarm hp saya berbunyi dengan riangnya. Horeee... !!! Udah pagi, tidak sabar ingin menjelajahi beberapa daerah di Hongkong hari ini ! Dengan riangnya, saya membangunkan Aya yang masi nyenyak tidur dikasur sebelah saya. Dan dengan riang pula, saya langsung menuju ke kamar mandi. Aaahhh so exciting !!
Pagi itu, dengan semangat 45 kami menuju stasiun MTR terdekat (sebenernya, seperti yg saya jelasin di page sebelumnya, pintu masuk stasiun tersebar banyak dan dekat. Tapi kami memilih pintu masuk L1 yang berada disebelah kanan gedung." Setelah masuk, dan mencari line untuk ke Ngong Phing yaitu Tung Chung yang berada di line 3. Agak ribet sebenernya ke line-line ini, karena kita mesti naik lift dan turun eskalator. Ribet lahh.. Tapi Hongkong memang sudah disiapkan untuk wisatawan, sehingga disana-sini ada penunjuk arah ke line-line yang dimaksud.
Langganan:
Postingan (Atom)